Pages

Thursday, June 16, 2011

Pendidikan Holistik

1. Strategi dan Hasil Sistem Pendidikan di Indonesia
Sistem pendidikan di indonesia hanya menyiapkan para siswa untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi atau hanya untuk mereka yang memang mempunyai potensi akademik baik (ukuran IQ tinggi). Sistem tersebut sebenarnya mengacu pada sistem yang dipakai Amerika Serikat (AS), yang dikembangkan terutama sebagai reaksi terhadap keberhasilan Uni Soviet meluncurkan pesawat luar angkasa Sputnik pada tahun 1957. Strategi pendidikan AS di kritik oleh Lester Thurow, seorang ekonom dari MIT ( Perguruan tinggi terkenal di AS) sebagai strategi yang “salah” dalam menghadapi persaingan global. Thurow mengatakan bahwa strategi tsb hanya menyiapkan 10% terpandai dari penduduk AS. Menurut Thurow, dalam hal kualitas produksi, AS kalah dengan Jepang karena di Jepang lebih mementingkan bagaimana menyiapkan tenaga kerja yang berkualitas dan profesional yg merupakan bagian terbesar dari penduduk. Sudah puluhan tahun energi bangsa Indonesia terbuang sia-sia untuk menciptakan SDM yang menguasai IPTEK dengan beban kurikulum yang demikian beratnya. Alih-alih menghasilkan SDM yg handal dalam IPTEK, ternyata untuk membuahkan manusia Indonesia yang tahu bagaimana membuang sampah pada tempatnya, menjadi buruh yang rajin, dan yang jujur saja, tidak berhasil. Kualitas SDM yang buruk di Indonesia dkarenakan salah satunya oleh para pemimpin yang tidak mempunyai visi dan strategi yang jitu dalam membawa bangsa kedepan.
2. Tujuan Pendidikan : Tinjauan Teoritis dan Kontekstual
John Dewey mengatakan bahwa setiap makhluk hidup mempunyai mekanisme alami untuk beradaptasi sehingga dapat terus menjaga kelangsungan hidupnya dari generasi ke generasi. Kemampuan untuk beradaptasi ini oleh Herbert Spencer disebut sebagai bekal pengetahuan yang paling berharga yang harus diberikan kepada generasi muda. Tiga pokok pikiran yang dijadikan dasar sebuah tujuan pendidikan adalah:
a. Menyiapkan individu sebagai pembelajar sejati
b. Menyiapkan individu yang mempunyai komitmen terhadap perdamaian dan perwujudan dunia yang lebih baik
c. Menyiapkan individu yang mempunyai daya saing tinggi dalam dunia kerja
3. Tujuan Pendidikan : Membangun Manusia Holistik
Pendidikan holistik diartikan membangun manusia yang utuh dan sehat. Jeremy Henzel-Thomas menjelaskan bahwa membangun secara utuh dan seimbang pada setiap murid dalam seluruh aspek pembelajaran spiritual, moral, imajinasi, intelektual, budaya, aestetika, emosi, dan fisik mengarahkan seluruh aspek-aspek tersebut ke arah pencapaian sebuah kesadaran tentang hubungannya dengan Tuhan, yang merupakan tujuan akhir dari semua kehidupan manusia di dunia. Dalam UU RI no 20 tahun 2003 di sebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Oleh karena itu potensi manusia yang harus dikembangkan melalui pendidikan adalah: aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual, dan akdemik.
4. Pendidikan Dasar : Masa Kritis Pembentukan Fondasi Manusia Holistik
Pendidikan yang salah pada anak usia dini akan berakibat pada sikap negatif terhadap belajar yang akan terbawa sampai dewasa. Untuk itu perlu diperhatikan perkataan Burton yaitu pembelajaran yang relevan adalah bahwa para guru dari anak-anak usia dini harus selalu menyadari konsep anak secara utuh. Saat ini sudah dikenal istilah DAP (Developmentally Appropriate Practices) yaitu pembelajaran yang menyenangkan bagi anak-anak karena selain sesuai dengan tahapan perkembangan anak, juga memperhatikan keunikan masing-masing individu anak.
Periode usia dini sangat penting untuk diperhatikan sebab akan berpengaruh pada kemampuan berpikir kreatif, kritis dan kemampuan menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan. Di Jepang saat telah melakukan perubahan orientasi pendidikan dimana periode SD digambarkan sebagai masa yang paling menyenangkan sementara SMP dan SMA sangat sulit. Meskipun sulit, namun sikap positif terhadap belajar sudah terbentuk sejak di SD.
5. Prinsip-Prinsip Pendidikan Holistik
Pendidikan untuk membangun manusia holistik akan tercapai jika mengacu pada prinsip pembelajaran yg dapat mengarahkan proses secara efektif.Ada tiga prinsip pembelajaran efektif bagi pendidikan dasar:
a. Pembelajaran memerlukan partisipasi aktif para siswa
b. Setiap anak belajar dengan cara dan kecepatan yang berbeda
c. Anak-anak dapat belajar dengan efektif ketika mereka dalam suasana kelas yang kondusif
6. Aplikasi Konsep Pendidikan Holistik dalam Kurikulum
a. Pendekatan yang merangsang daya minat anak
b. Pendekatan yang melibatkan siswa bekerja dalam kelompok.
c. Pendekatan yang memadukan berbagai materi dalam satu sajian
d. Evaluasi siswa
7. Relevansi Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan Konsep Pendidikan Holistik
Fungsi pendidikan nasional menurut undang-undang adalah membentuk mengembangkan kemampuan, membentuk watak manusia dan peradaban bangsa Indonesia. Dengan kata lain bahwa membangun manusia holistik adalah cita-cita pendidikan nasional.
a. Pengertian kurikulum berbasis kompetensi (KBK)
kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang dicerminkan dari kebiasaan berpikir dan bertindak. Ada tiga hal penting tentang KBK yang harus diketahui oleh guru, yaitu:
 KBK memposisikan kompetensi siswa sebagai acuan untuk menentukan materi pelajaran yang digunakan sebagai bahan untuk mencapai kompetensi yang telah ditentukan.
 KBK berorintasi pada hasil dan proses
 KBK disajikan pada siswa dengan menggunakan berbagai metode, strategi dan teknik pembelajaran yang dapat memberikan kompetensi kepada siswa.
b. Prinsip-prinsip dalam pengembangan KBK
 Keimanan, nilai dan budi pekerti luhur
 Penguatan integritas nasional
 Keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestika
 Kesamaan memperoleh kesempatan
 Abad pengetahuan dan teknologi informasi
 Pengembangan keterampilan hidup
 Belajar sepanjang hayat
 Berpusat pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dan komperehensif
 Pendekatan menyeluruh dan kemitraan
c. Komponen-komponen KBK
 Kurikulum dan hasil belajar
 Penilaian berbasis kelas
 Kegiatan belajar mengajar
 Pengelolaan kurikulum berbasis sekolah
d. Tujuan penyelenggaraan sekolah dan kompetensi lulusan
 Penyelenggaraan Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal difokuskan pada peletakan dasar-dasar pengembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya.
 Penyelenggaraan Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai dasar-dasar karakter, kecakapan, keterampilan, dan pengetahuan yang memadai untuk mengembangkan potensi dirinya secara optimal sehingga memiliki ketahanan dan keberhasilan dalam pendidikan lanjutan atau dalam kehidupan yang selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
8. Aplikasi KBK dalam pembelajaran di kelas
a. Memahami isi KBK
b. Menentukan tema dan judul
c. Membuat bagan keterjalaan melalui tema
d. Menyusun kegiatan pembelajaran

No comments:

Post a Comment